Minggu, 25 September 2016

KEPANITIAAN NATAL 2016

Kotabaru, 22/09/2016 Perayaan Kelahiran Yesus sudah dekat, tentunya perlu ada persiapan yang matang untuk merayakannya. Gereja Katolik Santo Yusup Kotabaru pada tahun 2016 ini kepanitiaan lebih awal bergerak dan melakukan sejumlah hal untuk mempersiapkan perayaan kudus ini.
Bertempat di Aula Pastoran Damai Bagimu pada pk. 19.00 Wita, sejumlah umat diundang untuk terlibat dalam pembahasan kepanitiaan dan sekaligus merencanakan beberapa hal terkait program kerja panitia Natal. Kepanitiaan Natal tahun 2016 ini di koordinatori oleh Komunitas Markus dan Matius dan yang dipercaya untuk menjadi ketua adalah Ibu Mariani Susilo (selaku Ketua Komunitas Markus).
Dalam draf yang disampaikan ke sejumlah undangan, pada malam itu sedikit di kritisi terkait dengan koordinator seksi dan beberapa orang yang ditunjuk dalam kepanitiaan yang belum bisa hadir atau memang ada informasi pada saatnya tidak bisa melaksanakannya. Oleh sebab itu perlu adanya kritisi dan perbaikan struktur yang ada.
Masing-masing seksi berkumpul dalam team kerjanya dan merencanakan program sekaligus anggaran yang diperlukan dalam kegiatan itu. Walau waktu cukup singkat, beberapa seksi sudah mulai menyerahkan draf kinerja dan anggrannya.
Pertemuan berlangsung sampai dengan pk. 21.00 Wita dan berencana akan melaksanakan pertemuan lagi pada hari Rabu, 5 Oktober 2016 di tempat yang sama.
"Kita sepakati untuk berkumpul kembali di Aula ini pada hari Rabu (5/10/2016, Red), begitu ungkap Ketua Panitia. (Ft: RP.Argo,OAD, Rep: Agustinus)

Selasa, 20 September 2016

SIAP MENUJU TEMU RAYA OMK SE-INDONESIA KE-2 DI MANADO

Pastoran "Damai Bagimu" Pulau Laut, Selasa, 20/09/2016. Ajang Indonesian Youth Day 2016 di Manado semakin dekat dan semua Orang Muda Katolik (OMK) Indonesia sudah bergeliat menata, menyiapkan dan bahkan berkegiatan guna menggelar Temu OMK tersebut.
Di Paroki Santo Yusup Kotabaru, dibawah Pastor Paroki RP. Petrus Argo Yuwono, OAD juga sedikit melakukan persiapan guna ajang bergengsi bagi Kaum Muda Indonesia. Malam lalu (selasa*red) telah berkumpul Duta OMK ke Manado dari Kotabaru, mereka mencermati anjuran dan surat resmi Komisi Kepemudaan Keuskupan Banjarmasin (RP. Teddy Aer, MSF) yang berisi tentang jalur terbang dan kelompoknya serta beberapa bekal yang wajib di siapkan dalam koper maupun dalam tas peserta.
Keuskupan Banjarmasin membagi dua kelompok terbang menuju ke Manado, hal ini secara teknis dianggap paling efektif dan praktis sekaligus menekan biaya. Kelompok A akan terbang dari Bandara Syamsudin Noor pada tanggal 30 September 2016, dan akan transit di Balikpapan dan lanjut ke Manado. Kelompok B juga akan terbang dari Bandara Syamsudin Noor transit Balikpapan dan melanjutkan terbang ke Manado, hanya bedanya kelompok B akan menginap dahulu di Balikpapan dan baru tanggal 1 Oktober terbang ke Manado. Seperti itu juga halnya saat kembali ke Banjarmasin, kelompok B akan transit sekaligus menginap di Balikpapan.
Dalam jumpa Duta tersebut secara teknis beberapa hal penting disampaikan oleh Dany Theresa sebagai peserta yang sekaligus penggerak serta koordinator team di Paroki Santo Yusup Kotabaru, dikarenakan Dany yang selama ini yang mengikuti sekaligus berkoord.inasi dengan Pastor Teddy. Peserta wajib untuk membawa bekal pakaian hangat jaket, celana panjang dan bahkan penutup kepala, karena di Tomohon udaranya cukup dingin, demikian ungkap Dany. Apabila berkenan OMK yang berangkat bisa menggunakan bekal celana sekali pakai, untuk menghemat tempat, ujar Che Melia selaku Komisi Kepemudaan di Paroki St. Yusup. Ditambahkan juga oleh Che Melia, jangan sampai lupa nanti selalu koordinasi dengan Bp/Ibu Guru di sekolah demi mengejar materi yang ditinggal selama mengikuti Temu OMK di Manado. Intinya harus proaktif mencari tahu materi yang tertinggal selama pergi ke Manado, hal ini bisa dilakukan dengan bertanya ke teman satu kelas atau terlebih ke guru bidang study yang bersangkutan, apalagi sebagian besar OMK yang ikut adalah OMK yang menjelang Ujian akhir di SMA.
Keikutsertaan OMK ke Manado memerlukan banyak dana, saya mengapresiasi kinerja OMK yang berjuang untuk mencukupi keperluannya, diantaranya dengan menggalang dana dengan berjualan guna mendapat donasi. Oleh sebab itu OMK yang ditunjuk sebagai Duta ke Manado diharapkan mengikuti kegiatan dengan baik, agar nantinya dapat berdayaguna bagi OMK itu sendiri. Tidak ada tuntutan laporan, hanya sangat dianjurkan ketika sampai kembali di Bumi Saijaan dapat menyebarkan informasi, pengalaman yang didapatkan di Manado, demikian ungkap Wakil Ketua II DPP St. Yusup. Demikian juga secara adminitrasi mohon segera diurus, seperti surat ijin kepada sekolah bagi OMK yang sekolah dan kepada Kepala Kantor bagi yang bekerja di Instansi Pemerintah.
Dalam keiukutsertaan OMK Santo Yusup ke Manado, mohon dapat didokumentasikan dengan baik. Oleh sebab itu sarana, prasarana sederhana seperti ponsel atau kamera digital dapat dipergunakan semaksimal mungkin, kata Pastor Argo, selaku Pastor Paroki.

Senin, 19 September 2016

OMK MEMPUNYAI PERAN DI KOMUNITAS, GEREJA DAN MASYARAKAT

Santo Yusup Kotabaru, Novena menyambut gelar Indonesian Youth Day di Manado terus digelar, event ini semakin dekat dan perlu dukungan seluruh warga Gereja, terlebih orang muda Katolik itu sendiri yang merupakan bagian inti dari ajang itu. Temu orang Muda Katolik ke-2 di Manado sudah diagendakan, seluruh paroki, keuskupan di Indonesia haruslah peduli dengan keberadaan Kaum Muda yang Notabene akan menjadi Gereja masa mendatang. 
Di Paroki Santo Yusup Kotabaru, Kalimantan Selatan kegiatan Novena ini berjalan dengan baik. Dimulai dari kirab salib tingkat keuskupan yang juga kebetulan dimulai dari Paroki Pulau Laut ini. Pada hari Minggu, 18 September 2016 lalu, Novena sudah memasuki hari ke-8. Kegiatan ini  banyak diminati anggota OMK, minimal 15-20 anak selalu berkumpul setiap minggunya. Minggu ke-8 kegiatan novena ini bertempat di rumah sdr. Welly (Keluarga Bpk Markus) yang beralamat di Purwosari Dalam dan didampingi oleh Sr. Vincenta, SPM, serta Komisi Kepemudaan (Che Melia Kosasih). Walau kondisi mendung dan gerimis tidak menyurutkan semangat OMK untuk berkumpul dan menyediakan diri mendengarkan Sabda Tuhan serta melanjutkan Novena Kirab Salib IYD.


Dalam perjumpaan dan permenungan itu dibahas bagaimana OMK mempunyai peran di Komunitas, Gereja dan masyarakat. Apa saja yang sudah dilakukan? Hal ini untuk menunjukkan jati diri OMK, dan menepis anggapan bahwa OMK dipikir hanya bisa jaga parkir dan tidak punya kemampuan lain.
Dalam sebuah pendalaman, salah satu OMK menyatakan bahwa OMK dalam hal tertentu masih mempunyai kemampuan yang tidak boleh dianggap remeh, misalnya OMK punya daya pikir yang baru dan banyak ide cemerlang untuk kemajuan Gereja masa mendatang, ujar Fredy.
Ada pula yang menyatakan keberaniannya mempertahankan ke-Katolik-annya dengan tetap menggunakan rosario walau banyak teman mengatakan bahwa hal itu hanya mengadopsi dari keyakinan lain, ungkap Anton
Kepedulian OMK terhadap Gereja sebenarnya sudah ditunjukkan dengan berbagai aktifitas yang dilakukannya selama ini, hal itu diungkapkan dalam sharing yang menyatakan bahwa OMK sudah terlibat dalam tugas liturgi. Perlu Komitmen OMK dalam tetap setia dalam pelayanan dan juga keseriusan dalam melakukannya. (Ref/Foto: Agustinus)

Minggu, 04 September 2016

PEWARIS DAN PEWARTA SANG SABDA

Purwosari Dalam Kotabaru, langkah menuju Indonesian Youth Day Manado semakin dekat, aktifitas kaum muda juga semakin meningkat seiring dengan kegiatan Nasional yaitu Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2016 "Keluarga Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah". Sebagai bagian Gereja yang sangat berpengaruh yaitu kaum muda, semestinyalah memiliki tanggung jawab moral untuk ikut ambil bagian dalam nafas dan aktifitas hidupnya.
Bertempat di kediaman Samuel, salah seorang anggota OMK, Novena IYD 2016 dan sekaligus pendalaman BKSN ini berlangsung. Hadir sebanyak 18 kaum muda dan beberapa pendamping termasuk Suster Vincenta, SPM sebagai Pemandu dalam Permenungan dan doa tersebut.
Salah satu tema BKSN minggu 1 ini yaitu Yesus, Model Pewarta Sejati. Dalam tema ini di perdalam dengan mempertanyakan hidup menggereja dan aktifitas membaca Kitab Suci bagi Kaum Muda.
Sebagian besar kaum muda secara rutin sudah aktif dalam hidup menggereja, baik sekedar merayakan Ekaristi, maupun terlibat aktif dalam tugas liturgi, diantaranya dengan menjadi lektor, pemazmur, PPA dll. Dalam hal membaca Kitab Suci, sebagian diantara mereka merasa membaca kitab suci itu sedikit membosankan karena hanya berisi tulisan, dan bahkan dari beberapa anak muda kesulitan dengan bahasa juga isinya. Dalam hal ini pemandu memberikan sharing, bahwa membaca kitab suci itu bukan seperti membaca buku pelajaran atau bahkan buku cerita bergambar. Membaca Kitab Suci memang perlu dengan situasi hati dan juga pikiran yang jernih dalam memaknainya.
Yang paling sederhana, baca dulu minimal 1 ayat sehari. Walau tuntunan untuk tuntas membaca Kitab suci dalam 312 hari sudah diedarkan bukunya oleh Komisi Kitab Suci Keuskupan Banjarmasin, namun bukan harus selesai dengan seperti tuntunan itu. Kita bisa mengatur sedemikian rupa secara pribadi.
Bertepatan dengan ulang tahun teman OMK, Sdr. Samuel, kegiatan itu cukup special karena disediakan hidangan bakso oleh keluarga Pak Cun-cun. (Rep/Ft: Agustinus)

Kamis, 01 September 2016

Sakramen Bagi Non-Katolik

Sesudah gladi bersih upacara liturgis perkawinan, pastor menganjurkan saya mengaku dosa sebelum hari pernikahan. Calon suami saya yang beragama Kristen GKJW terdorong untuk juga mengakukan dosa-dosanya. Romo itu melayani kami berdua. Apakah berarti suami saya sudah menjadi Katolik? Apakah pengakuan dosanya itu juga adalah Sakramen?

Syanti Buwana Dewi, Lawang

Pertama, keinginan mendapatkan pelayanan salah satu Sakramen dalam Gereja Katolik dipandang belum memadai untuk dijadikan alasan kepindahan seseorang menjadi anggota Gereja Katolik. Dalam situasi biasa, keinginan untuk pindah menjadi Katolik perlu diungkapkan secara eksplisit dan dapat jelas dimengerti. Banyak orang Kristen yang menerima ajaran Gereja Katolik, yaitu percaya bahwa Yesus Kristus sungguh hadir dalam hosti kudus. Mereka ini ingin komuni dalam Gereja Katolik. Tetapi mereka tidak ingin pindah menjadi anggota Gereja Katolik dan tetap bertahan dalam Gereja asal mereka. Selain Sakramen Ekaristi, banyak orang Kristen yang juga menginginkan menerima Sakramen Rekonsiliasi dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Orang-orang ini tetap bertahan dalam Gereja mereka, tetapi percaya dan meminta agar boleh menerima kedua Sakramen itu. Jadi, penerimaan salah satu Sakramen Gereja Katolik tidak secara otomatis membuat yang bersangkutan menjadi Katolik.

Kedua, pemberian Sakramen Tobat, Pengurapan Orang Sakit dan Ekaristi untuk orang-orang Kristen, selain Gereja Timur, diatur dalam KHK Kan 844 # 4. Mereka ini boleh menerima ketiga Sakramen itu dengan syarat: i) “Jika ada bahaya mati atau kebutuhan lain yang mendesak menurut penilaian Uskup atau Konferensi para Uskup”. Misal di penjara, dalam perang, pengejaran (persecution), atau dalam kesempatan khusus seperti perkawinan, dll. ii) Mereka tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri. Misal mereka yang hidup jauh dari komunitas Gerejanya sendiri. iii) Secara sukarela memintanya, memperlihatkan iman Katolik dan berdisposisi baik. Syarat ketiga ini tidak mengharuskan bahwa sudah ada persekutuan penuh antara Gereja Katolik dan Gereja-Gereja lain. Demikian pula, iman Katolik harus ditunjukkan oleh individu-individu yang memintanya, bukan oleh Gerejanya.

Ini berarti, supaya diizinkan menerima komuni, saudara-saudari Kristen Protestan perlu mengakui secara eksplisit bahwa roti dan anggur itu adalah Tubuh dan Darah Kristus, bukan hanya gambaran atau sarana bantu untuk beriman. Untuk menerima Sakramen Tobat, yang bersangkutan perlu mengakui secara eksplisit bahwa imam diberi kuasa oleh Yesus untuk mengampuni dosa. Pengakuan eksplisit ini tidak bisa diandaikan dan tidak boleh diminta secara umum, melainkan satu per satu secara individual.

Permintaan suami Anda untuk menerima Sakramen Tobat memenuhi syarat ketiga, tetapi syarat pertama dan kedua tidak dipenuhi. Jadi, yang diterima oleh suami Anda bukanlah Sakramen Tobat. Mungkin imam itu mendengarkan curahan hati suami Anda dan memohonkan rahmat pengampunan kepada Allah. Curhat ini berbeda dengan Sakramen. Sakramen memberikan kepastian pengampunan yang dilimpahkan melalui pelayan tertahbis.

Ketiga, ketetapan KHK Kan 844 # 4 ini bisa diterapkan secara kasus per kasus, bukan secara umum seperti dikatakan eksplisit dalam # 5: “Uskup diosesan atau Konferensi Para Uskup jangan mengeluarkan norma-norma umum, kecuali setelah mengadakan konsultasi dengan otoritas yang berwenang, sekurang-kurangnya otoritas setempat dari Gereja atau jemaat tidak Katolik yang bersangkutan”. Juga perlu dihindarkan agar umat yang kurang mengerti tidak mengalami kebingungan dan kemudian timbul bahaya kesesatan seolah-olah Gereja-gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik Roma sudah sama dan mempunyai ajaran yang sama sehingga boleh saling menerimakan Sakramen (communio in sacris). Butir pertimbangan pastoral terakhir ini sangat penting untuk diperhatikan.

Petrus Maria Handoko CM

Rabu, 31 Agustus 2016



Cara Cara Mencapai Kerendahan Hati

Dalam ajaran kebijaksanaannya, Bunda Theresa pernah mengajarkan bagaimana cara-cara untuk mencapai Kerendahan Hati. Berikut sebagian ajarannya :

  • Berbicara sedikit mungkin tentang diri sendiri,
  • Uruslah persoalan-persoalan pribadi,
  • Hindari rasa ingin tahu,
  • Jangan mencampuri urusan orang lain, 
  • Terimalah pertentangan dengan kegembiraan, 
  • Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain, 
  • Terimalah hinaan dan caci maki, 
  • Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah, 
  • Mengalah terhadap kehendak orang lain, 
  • Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya, 
  • Bersikap sopan dan peka, sekalipun seorang memancing amarah Anda, 
  • Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai, 
  • Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun Anda benar, 
  • Pilihlah selalu yang sulit. 
Itulah beberapa permenungan tantang cara cara mencapai Kerendahan Hati, terinspirasi dari ajaran Bunda Theresa. Semoga Tuhan mendampingi dan membimbing kita selalu menuju Kerendahan Hati dalam bimbingan Tuhan. 
http://www.renunganhariankatolik.com/

Minggu, 28 Agustus 2016

RELEKWI ST. AGUSTINUS 

St. Yusup, Kali pertama di Gereja Katolik St. Yusup Kotabaru mengadakan Penghormatan Relekwi St. Agustinus. Hal ini berkenaan dengan Pelayanan Pastoral Gereja Paroki St. Yusup diemban oleh Ordo Agustinian (OAD) yang secara definitif menugaskan 3 Gembala (Pastor) Muda ke Gereja Pulau Laut ini.
Prosesi Penghormatan Relekwi St. Agustinus diawali dengan Triduum pada tanggal 24 s.d. 26 Agustus 2016, yang diikuti oleh umat. Puncak dari Triduum ini adalah Perayaan Pelindung Ordo Agustinian yang juga saat perayaan (Minggu, 28/08/2016) bertepatan dengan Hari Raya St. Agustinus.
Setelah Misa usai penciuman Relekwi St. Agustinus berlangsung, semua umat mulai dari Suster, Bapak, Ibu, Remaja, kaum muda dan anak-anak bergiliran mencium, menghormati relekwi tersebut.
Relekwi adalah barang-barang peninggalan atau sisa-sisa tubuh dari orang kudus yang sudah meninggal. Relikui ada bermacam-macam, bisa berupa potongan rambut, tulang, pakaian, dan lain-lain (Rep/Ft: Agustinus)